Padang, 11 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 KOMMA FP-UA, Kelompok Mahasiswa Mencintai Alam Fakultas Pertanian Universitas Andalas (KOMMA FP-UA) menyelenggarakan Sarasehan Pecinta Alam Sumatra Barat di Bumi Perkemahan Universitas Andalas, Padang. Mengusung tema “Memperkuat Peran dan Kolaborasi Gerakan Pecinta Alam dalam Menjawab Krisis Ekologis dan Mendorong Pemulihan Lingkungan di Sumatra Barat”, kegiatan ini menjadi ruang temu bagi pecinta alam, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta alumni untuk merumuskan arah gerakan pecinta alam yang lebih adaptif terhadap tantangan lingkungan saat ini.
Sarasehan ini dilatarbelakangi oleh semakin kompleksnya persoalan ekologis di Sumatra Barat, mulai dari meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, ancaman gempa bumi dan tsunami, degradasi hutan, hingga menyempitnya ruang hidup masyarakat. Kondisi tersebut menuntut gerakan pecinta alam tidak hanya berperan sebagai penikmat alam, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu berkolaborasi dalam upaya pelestarian lingkungan, pengurangan risiko bencana, penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Kapalo Suku KOMMA FP-UA, Muhammad Farhan (545/KM/24), menyampaikan bahwa sarasehan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat komitmen gerakan pecinta alam. Menurutnya, tantangan krisis ekologis tidak dapat dihadapi secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan komunitas pecinta alam, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa forum ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya aksi-aksi nyata yang terarah dan memberikan dampak bagi pemulihan lingkungan di Sumatra Barat.
Dalam kesempatan tersebut, A. Z. Fachri Yasin (001/KM/76) selaku Anggota Kehormatan KOMMA FP-UA mengingatkan pentingnya menjadikan falsafah Minangkabau “Alam Takambang Jadikan Guru” sebagai landasan dalam membangun karakter pecinta alam. Ia mengajak seluruh peserta untuk terus bermimpi dan menjaga keberlanjutan organisasi, bahkan hingga menyongsong satu abad perjalanan KOMMA FP-UA.
Sementara itu, Dr. Jumsu Trisno, S.P., M.Si selaku Wakil Dekan II Fakultas Pertanian Universitas Andalas memberikan apresiasi atas perjalanan panjang KOMMA FP-UA yang mampu bertahan dan terus berkontribusi selama lima dekade. Menurutnya, keberlangsungan organisasi ini menjadi kebanggaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas karena tidak hanya aktif dalam kegiatan kepecintaalaman, tetapi juga konsisten melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap gerakan pecinta alam mampu terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Berbagai narasumber yang hadir turut memberikan pandangan mengenai arah gerakan pecinta alam di masa depan. Rakhmat Hidayat (298/KM/89) selaku Anggota Kehormatan KOMMA FP-UA menekankan pentingnya kolaborasi antara pecinta alam dan akademisi dalam menghasilkan penelitian serta kajian yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan maupun pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, posisi Sumatra Barat yang rentan terhadap berbagai bencana alam harus menjadi pemicu lahirnya gerakan berbasis ilmu pengetahuan.
Dari perspektif advokasi lingkungan, Indah Suryani Azmi dari WALHI Sumatra Barat mengingatkan bahwa berbagai aktivitas yang merusak lingkungan tidak dapat dilepaskan dari persoalan ruang hidup masyarakat. Ia menegaskan bahwa upaya penyelamatan lingkungan harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sumber daya alam. Hal itu diakibatkan juga oleh pengabaian hukum oleh pemerintah.
Ferdhinal Asmin, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Barat, menyampaikan bahwa gerakan pelestarian lingkungan harus tumbuh dari masyarakat. Pecinta alam dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi aktor perubahan karena kedekatannya dengan alam dan masyarakat di tingkat tapak.
Dukungan terhadap kolaborasi juga disampaikan oleh Adi Junaedi (431/KM/99), Direktur KKI WARSI. Ia memaparkan pengalaman KKI WARSI dalam mendampingi masyarakat melalui program perhutanan sosial yang terbukti mampu menekan laju degradasi hutan. Dalam kesempatan tersebut, KKI WARSI juga membuka peluang kolaborasi melalui program magang dan pendampingan masyarakat bagi pecinta alam.
Sementara itu, Wan Zukri Saad, Deputi Direktur Eksekutif Nasional WALHI Periode 1993–1996, menyoroti meningkatnya ancaman bencana di Sumatra Barat yang berada pada kawasan Ring of Fire. Ia mendorong komunitas pecinta alam untuk memperkuat kapasitas dalam mitigasi bencana, pencarian dan pertolongan (SAR), serta kesiapsiagaan masyarakat sebagai bentuk kontribusi nyata di tengah meningkatnya risiko bencana.
Dalam sesi refleksi gerakan, Syafredo (179/KM/84) selaku Anggota Kehormatan KOMMA FP-UA mengajak peserta mengevaluasi hubungan manusia dengan alam melalui konsep simbiosis mutualisme, parasitisme, dan komensalisme. Menurutnya, gerakan pecinta alam harus mampu bertransformasi menjadi gerakan yang benar-benar hidup berdampingan dan saling menguatkan dengan alam.
Menutup rangkaian diskusi selaku fasilitator Muhammad Syifa'ur Ridho (544/KM/24) sekaligus Anggota Kehormatan KOMMA FP-UA mengajak seluruh peserta untuk kembali merefleksikan posisi dan peran pecinta alam saat ini. Ia menegaskan bahwa jawaban atas berbagai tantangan ekologis harus lahir dari kesadaran kolektif gerakan pecinta alam yang berlandaskan Kode Etik Pecinta Alam sebagai pedoman moral dalam setiap langkah pengabdian kepada masyarakat dan lingkungan.
Sebagai hasil dari diskusi, peserta sarasehan merumuskan tiga rekomendasi utama. Pertama, mendorong penyelenggaraan pelatihan kebencanaan yang mencakup mitigasi bencana, evakuasi korban, pencarian dan pertolongan (SAR), serta peningkatan kapasitas relawan. Kedua, memperkuat kemampuan dokumentasi dan penulisan melalui pelatihan yang mendukung publikasi, edukasi, dan advokasi lingkungan. Ketiga, mendorong dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan para pemangku kepentingan berupa pendanaan, transportasi, dan penyediaan peralatan bagi relawan pecinta alam agar kegiatan kemanusiaan, kebencanaan, dan pelestarian lingkungan dapat berjalan lebih optimal.
Melalui Sarasehan Pecinta Alam Sumatra Barat ini, KOMMA FP-UA berharap lahir komitmen bersama untuk memperkuat sinergi antarorganisasi pecinta alam, akademisi, pemerintah, dan masyarakat sipil dalam menjawab berbagai tantangan krisis ekologis. Momentum HUT ke-50 KOMMA FP-UA diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan yang lebih kolaboratif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada aksi nyata demi terwujudnya lingkungan yang lestari dan masyarakat yang tangguh di Sumatra Barat.
Narahubung :
Ridho (0852-7137-0193)
Tommy Adam (0812-8820-2488)


